Jumat, 03 Maret 2017

Menyelamatkanku


"Air laut, seperti juga air mata, akan membantu lukamu sembuh."

Itu alasan kenapa dari semua tempat yang bisa dijadikan tempat "lari", kamu memilih mengajakku ke sini. Padahal pantai bukan tempat favoritku. Cuaca panas dan kondisi badan yang selalu berkeringat membuat aku tidak betah.

Tanpa bir dingin di tangan, pantai benar-benar membosankan.

Kita diam sudah beberapa saat lamanya. Menikmati air yang datang dan bermain-main dengan kaki yang kita biarkan telanjang di atas pasir. Sesekali ombak cukup tinggi sampai menghantam dada dan wajah. Namun, kamu tak terlihat ingin beranjak.

Aku menatap ke arahmu, duduk menopang tubuh dengan dua tangan ke belakang dengan kacamata hitam. Seperti menikmati musik tak terdengar, membiarkan sinar matahari rakus membakar kulit. Sepulang dari sini nanti, aku tak boleh lupa mengunjungi dokter kulit langganan. Kulitku juga pasti sudah legam sekarang.

"Kenapa, Nay?" tanyamu yang sadar sedang kuamati.

Aku menggeleng. "Aku masih belum mengerti kenapa kita di sini."

"Untuk menenangkanmu, kan?"

Melihatku mengangkat bahu, Alfa tak ambil pusing. Dia lantas kembali ke posisinya semula. "Tapi kenapa?"

"Kenapa apanya?"

"Kenapa bersikukuh mengajakku ke sini."

"Karena aku tak bisa melihatmu berkeluh kesah tiap hari soal hidupmu. Kamu bilang pekerjaanmu membosankan. Kamu bilang keluargamu terus bertanya soal rencana menikah yang kamu belum punya. Yet you didn't do anything about it."

"..."

"Kecuali menangis." setelah mengucapnya, Alfa duduk tegak di sebelahku, kakinya bersila. Dengan kacamata hitam yang dilepas, matanya menatap lurus ke mataku.

Semua yang diucapkan Alfa benar. Tapi semua kebenaran itu seperti lembar alumunium yang dikumpulkan, dikepal menjadi bola padat, lalu dilempar ke wajahku. Sakit. Aku diam-diam menyesal sudah membiarkannya tahu semua hal.

"Aku tidak menyalahkanmu, Nay. It just doesn't make sense to me, you know. For a woman like you."

Aku diam. Tak berminat menanyakan terlebih mendengarkan penjelasan dari pernyataan Alfa barusan. Buat apa juga? Aku hanya berakhir merasa kerdil dan bodoh.

Bertahun aku mengenal Alfa, aku tahu satu hal, dunia ini nyaman baginya. Kuselesaikan studiku empat tahun saat dia sibuk riset ini itu sampai tahun keenam. Saat riset jadi tak menarik baginya, Alfa lulus. Lulus memang semudah itu bagi Alfa dan sebenarnya bisa dilakukan bertahun lalu. Saat kutanya, ia bilang, "Apa asiknya, Nay? Melakukan penelitian demi lulus cepat. Kalau sekedar lulus, kenapa nggak beli ijazah dari awal?"

Aku tahu dia tak bermaksud. Tapi usaha pontang-panting mencapai kelulusan tepat waktu yang kulakukan serasa dilecehkan.

Selanjutnya, aku bekerja di perusahaan besar. Saat Alfa sarjana, aku sudah punya anak buah. Bekerja menghamba pada klien dan tenggat waktu. Tak masalah, kompensasi yang kuterima sepadan dengan target gila yang mati-matian kukejar.

Tapi si sarjana sinting ini malah memilih kegiatan sosial jadi batu loncatan pertamanya. Saat kutanya, ia bilang, "Uang bisa dicari, Nay. Mumpung aku masih sendiri, aku bisa melakukan hal-hal yang tak ada uangnya."

Karirku menanjak naik. Umurku juga.

Seperti kebanyakan perempuan, persoalan lain muncul.

Alfa tertawa saja saat aku mulai mengeluh soal pertanyaan-pertanyaan tentang pernikahan. Dia malah mengajukan ide sekolah di tempat jauh yang kutolak mentah-mentah. Mana bisa kutinggalkan pekerjaan seenaknya?

Pergilah Alfa sekolah lagi. Tak jauh. Mengunjunginya pun tak mahal dan tak butuh visa. Kalau aku benar suntuk, kuhabiskan akhir pekan bersamanya. Aku berkeliling pusat perbelanjaan dengan dia setia menemani.

Sampai akhir-akhir ini.

Sampai beberapa kunjungan ke psikiater juga tak membantu.

Alfa datang ke apartemenku. Memaksaku pergi. Saat Alfa memaksa, artinya ia tak menerima penolakan. Tiket dan segala urusan akomodasi sudah diselesaikan. Barang-barangku dimasukkannya ke koper. Aku pergi tanpa tahu tujuan akhir kami. Alfa hanya menjawab, "Ke tempat yang tidak menyiksamu." saat aku bertanya berulang kali.

"Nay?" Alfa mengguncang bahuku pelan. "Are you okay?"

Aku mengangguk. "Terima kasih sudah mengajakku ke sini."

"Sama-sama."

"Terima kasih selalu bersedia menyelamatkanku."

Pandangan Alfa yang tadinya menatap kejaran ombak, berubah ke arahku. Tepi-tepi bibirnya ditarik ke samping, bingung. "Aku tidak."

"Selalu mengangkat telepon tiap kali kubutuhkan, menyediakan Sabtu-Minggu menemani aku berjalan sampai pegal di Orchard Rd., mengorbankan cuti untuk mengajakku liburan. Kamu selalu menyelamatkanku, Alfa."

"Tidak. Aku menyelamatkan diriku sendiri."


Sumber gambar: https://www.pexels.com/photo/sea-beach-holiday-vacation-6567/

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting