Selasa, 19 Desember 2017

There is no feeling


Rea membawa sekantong sedang kentang goreng hangat, sudah pasti bukan masakannya sendiri. Sebelum ke sini, dibelinya dulu di resto cepat saji yang tersedia di lantai bawah apartemen. Sedangkan Bumi membawa tiga botol bir dingin. Satu sudah terbuka dan bersisa setengah, sedang dinikmatinya.

"Great." ujar Rea langsung mengambil kedua botol bir baru dari tangan Bumi dan mengadu tutupnya. Terbuka. "How was your day?" ucapnya pada Bumi sembari memandang lampu-lampu jalan dan kendaraan di bawah mereka.

Bumi meneguk lagi birnya, lelah habis menyusuri tangga darurat demi sampai ke sini. Ia lalu mengambil posisi duduk di samping Rea, "Down there? Boring."

"Being normal is." lanjut Rea, matanya mengerjap diterpa angin malam yang berlawanan arah.

Lalu sunyi merambat. 

Bumi menoleh, memandangi wajah perempuan itu dari samping. Tatap matanya seperti mengambang di udara, tak terarah. Anak-anak rambutnya dimainkan angin, dadanya naik turun teratur mengambil napas. Kulit leher dan sebagian dadanya terpapar cahaya sesekali, tarik menarik kala meneguk bir. "When it's gone, where do you wanna go?" akhirnya keluar pertanyaan setelah Bumi melirik isi botol Rea yang tinggal seperempat.

"I don't know." jawab Rea sekenanya, lantas mencomot kentang goreng dari dalam kantong. Menawarkan pada Bumi yang kemudian ikut menikmatinya.

"My place?" Bumi menawarkan sambil membuang pandangan ke mobil-mobil yang terjebak macet di bawah mereka. Senja di Jakarta memang identik dengan kendaraan merayap di jalanan.

"As long as.." belum penuh kalimat Rea terucap, Bumi keburu memotong.

"..there's no feeling." 

Rea menoleh, "I fell hard and it did hurt, Bum. Badly. I ain't do it again."

"And I will do everything to make you not to." balasnya.

Sumber gambar: https://www.pexels.com/photo/drink-beer-cheers-toast-8859/

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting